Without You
Arinapark Present
Poster by Xyoblue @ Indo Fanfictions Arts
Romance;AU | Parent Guidance 13 | Vignette
BTS’s Jin and Red
Velvet’s Irene, slight! Red Velvet’s Seulgi, slightmention! EXO’s
Lay
Posted on :
arindaliya.wordpress.com and [upcoming] btsfanfictionindonesia.blogspot.com
My Disclaimer :
This story is officially mine. Jin and Irene are belong to their parents, fans,
agencies and God ofc. Maapkan daku kalau ceritanya maksa atau jelek. Maapkan
daku juga kalau pairingnya ga sreg atau ga dapet feelnya. Tapi, yang mau baca,
terimakasih dan review juseyo~ gomawo~ /bow bareng trio maknae/
[ Recommended song : BEAST-Without You (The Scholar Who Walks The Night OST
Part 3) ]
-
“Tanpamu,aku
hilang.” –Kim Seokjin
-
-
Sebuah kemajuan
besar kalau sahabatnya, Irene, Ingin bertemu dengannya. Sudah hampir 5 tahun,
sejak kelulusan SMPnya, ia tidak bertemu dengan gadis itu.
Seokjin
mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja di hadapannya. Ia mengerucutkan mulutnya.
Ia benci menunggu dan kebiasaan Irene,sahabatnya, telat.
“Seokjin-ah, mianhae”
tetiba gadis itu muncul di hadapannya sambil membawa sekantong sayur-mayur dari supermarket sebelah.
“huh,
bisa-bisanya kau menjadikan telat sebagai hobi.” Gerutu Seokjin. Irene hanya
nyengir kuda. Ia tahu permintaan maaf tidaklah cukup untuk seorang Kim Seokjin.
Jadi, sebelum pergi ke kafe tempatnya bersama Seokjin sekarang ia membeli
sebuah buku resep makanan yang baru terbit kemarin untuk Seokjin sebagai
sogokannya.
“Nah, ini
untukmu” irene menyodorkan buku resep itu. Seokjin mendecak lalu berkata, “Aku
sudah membelinya. Ini.” Seokjin menunjukkan buku yang sama seperti yang Irene
beli. Irene mendengus.
“Tahu begitu, aku
takkan membelikannya.”
“Aku tidak
menyuruhmu membelinya.”
Seokjin terkekeh
geli melihat wajah Irene yang setengah marah setengah malu. Ia lalu menopangkan
dagu di atas telapak kedua tangannya yang bertumpu pada meja di depannya. 10
detik kemudian pesanan Seokjin datang. Secangkir vanilla latte dan secangkir
capuccino. Irene mengambil cangkir capuccino.
“Ya! Itu
punyaku! Biasanya kau akan mengambil vanilla latte!”
Irene yang sedang
menyesap capuccino itu berhenti lalu menatap mata Seokjin serius, “Aku sedang
tidak mood minum vanilla latte.” Seokjin cukup sadar untuk mengetahui
tingkah sahabatnya yang aneh ini. Ia masih ingat kalau Irene ini vanilla latte-addicted.
Bahkan, teman begadangnya selama ini bukan kopi, melainkan vanilla latte ini.
Seokjin memandang
Irene keheranan.
“Apa?”
“Tumben saja.
Biasanya, kau bisa menghabiskan 7 cangkir vanilla latte dalam sehari. Bahkan
kalau dihadapkan dengan pilihan antara vanilla latte atau kue pai, kau memilih
vanilla latte. Tapi, sekarang kau memilih capuccino. Boleh ku tahu mengapa,
nona Bae?” Tanya Seokjin sambil agak memiringkan wajahnya. Seketika Irene
meletakkan cangkir capuccino-nya.
“Terima kasih
sudah mengingatnya,Kim. Aku memilih capuccino karena Xing menyukainya.”
Kalimat kedua
yang dilontarkan Irene sukses membuatnya tersenyum secara paksa.
-
-
Sebuah kenyataan
kala Seokjin menyukai Irene secara tidak sengaja. Seokjin mengakuinya. Ia
pernah membaca kalau tidak akan ada ‘murni’ persahabatan kala itu terjadi
antara laki-laki dan perempuan. Dari 24 tahun hidupnya, ada kurang lebih 15
tahun hidupnya ia habiskan bersama perempuan bernama Irene itu. Sejak
kelahirannya, ada Irene di sisinya. Sejak kelahirannya, tidak sedetikpun Irene
meninggalkannya. Ia merasa ada jika Irene ada. Ia sadar, kadang bersama Irene,
ia akan berubah enjadi gila. Dan, itu
masih tetap membuatnya jatuh cinta pada Irene.
Sekalipun mereka
terpisah sejak SMA dan baru bertemu kala sudah lulus kuliah, perasaan Seokjin
tidak berubah sejak 9 tahun lalu. Sejak awal, ia menyadari kalau ia menyukai
Irene. Seokjin yang terus menerus bersama Irene merasa terbiasa dengan gadis
itu. Seokjin tidak bisa menghalangi takdirnya menyukai Irene.
Namun, ia merasa sebal
karena ini bukan saat yang tepat. Ada satu kenyataan yang membuat Seokjin harus
terus menata hatinya.
Irene menyukai
Yixing. Si Orang China Baru yang ada di tempat kerjanya.
-
-
Begitu keluar
rumah, Seokjin kaget bukan main kala melihat dandanan Irene.
“Selamat
pagi,Kim~” Sapa Irene. Tidak seperti Seokjin yang biasanya akan mendecih lalu
berpura-pura tak acuh, ia malah mematung sambil melongo.
Irene yang ada di
hadapannya kali ini sangat berbeda dari biasanya. Irene yang ia tahu adalah
Irene yang kalau berangkat ke tempat editoring dengan menggunakan celana
jins,kaus pendek lalu dibalut kardigan dan rambut diikat ke belakang. Ditambah,
dengan permen karet rasa mint yang sudah dikunyahnya begitu
bertemu dengan Seokjin. Sederhana. Tapi, Irene yang dihadapannya adalah Irene
yang memakai pink dress selutut dengan rambut digerai. Tanpa ada permen
karet. Ia tampak begitu... cantik.
“Kim,” Seokjin
mengerjapkan matanya kaget sementara Irene terkekeh di hadapannya, “Kaget?”
Tanya irene. Seokjin hanya mengangguk pelan. Irene lalu tersenyum jumawa,
merasa menang karena akan mengejutkan dua orang. Kim Seokjin dan Yixing.
Sepanjang jalan
menuju kampus, Irene bercerita kesana-kemari. Tentang chatnya bersama
Yixing. Tentang kenapa ia melakukan semua
ini. Tentang hari-harinya sebagai seorang editor muda. Tentang apa yang
akan terjadi hari ini. Tentang flashback masa lalu persahabatan mereka.
Tentang apa yang akan terjadi hari ini.
Ren, kenapa
kau melakukan ini semua? Sampai kapan semua ini berakhir?.
-
-
Hari ini, Seokjin
tidak melihat penampakan sahabatnya yang telah lama ia sukai itu. Pagi tadi, ia
memang tidak pergi ke supermarket bersama. Ia memiliki pekerjaan di restoran
yang harus ia lakukan. Membiarkan Irene ke supermarket duluan lalu menunggunya
di kafe tempat dua minggu ini mereka bertemu. Tapi, tetap saja ia tidak melihat
gadisnya itu.
Ia hanya
tiba-tiba menghilang. Padahal, baru dua minggu ia bertemu dengan Irene yang
telah berpisah dengannya selama 9 tahun. Bayangan gadis tomboy itu mampir di pelupuk
matanya.
-
Ding dong
Tidak ada
jawaban. Sama seperti kebanyakan tamu yang datang berkunjung ke sebuah rumah, Seokjin berharap pintu yang
diketuknya bersambut. Entah penyambutan seperti apa yang akan ia dapatkan. Ia
hanya berharap, apa yang ia cari ada didalamnya.
Pintunya terbuka.
Muncullah sesosok perempuan yang menurutnya lebih muda darinya. Siapa?.
Seokjin berusaha
menahan kekagetannya yang sudah menyeruak keluar. Perempuan yang ada di
hadapannya lebih kaget.
“nuguseyo?”
Tanya si perempuan.Seokjin agak gelagapan.
“Ah, Aku Seokjin.
Kim Seokjin” tangannya terulur untuk berkenalan dengan si perempuan.
“Aku Seulgi. Kang
Seulgi. Omong-omong, ada yang perlu saya bantu, Tuan Seokjin?”
“A-Ani.
Aku hanya ingin bertanya, kemana perginya Irene?”
“Irene?”
perempuan itu malah mengernyiitkan dahinya.
“Ya maksudku,
penghuni apartemen ini. Kemarin sore, ia masih disini.” Jelas Seokjin. Seulgi
malah menatap Seokjin sambil memutar matanya-memaksa otaknya bekerja menggali
memori yang ia miliki-.
“Penghuni
apartemen ini adalah aku, sejak seminggu yang lalu.” Dar! Seokjin seketika
pucat pasi,ada satu hal yang ia lupakan, “Menurut berita yang kudapatkan-“
“Jangan
lanjutkan! Aku sudah tahu kelanjutannya!”
Seokjin melengang
pergi meninggalkan lorong (bekas) apartemen sahabatnya. Begitu sampai di
apartemennya, ia membanting dirinya kasar. Lalu menatap sebuah foto berbingkai.
Fotonya bersama Irene saat kelulusan SMP. Sebelum Irene pergi dari Korea.
Sebelum Irene ikut pergi bersama ibunya ke Swiss. Sebelum takdir buruk itu ia
terima.
Seokjin mengambil
ponselnya. Ia menscroll daftar pesan elektronik masuk yang didapatnya.
Dapat. Ia menemukan pesan elektronik yang ia dapatkan dari Irene. Pesan pertama
dan terakhir sejak kepergiannya 9 tahun lalu. Tertera di tanggal penerimaan,
dua minggu yang lalu.
KIM! Aku
kembali ke Korea hari ini! Kau tidak melupakanku, kan? Jangan becanda, Kim. Aku
tahu kau takkan pernah melupakanku. Maafkan aku karena selama ini aku
benar-benar tidak bisa dihubungi. Swiss benar-benar katro. Selalu saja musim
dingin. Bahkan musim panasnya pun terasa dingin. Ibuku benar-benar kacau di
Swiss. Maksudku, demi kepentingannya, ia memutus semua akses komunikasiku
dengan orang korea. Jahat,kan?. Ah, aku
harus pergi, pesawatnya akan segera berangkat, jangan lupa untuk menjemputku di
bandara, Kim~ dah, aku merindukanmu.
Tertanda,
Sahabatmu,
Bae Irene yang
cantik^^
Seokjin menangis.
Ia tidak pernah menepati janjinya untuk menjemput Irene. Ia tidak akan pernah
menemui gadis tomboynya di bandara. Bayangan gadisnya itu, hanya sampai pada
imajinya. Seokjin duduk melipat lututnya. Analogi dari memeluk jiwanya yang
rapuh. Sampai kapanpun, Seokjin tidak akan menepati janjinya.
Kecelakaan yang
merenggut segalanya dari Seokjin. Kecelakaan pesawat yang mengambil Irene dari
sisinya. Ia merutuki takdir. Kenapa Irene harus pergi dengan pesawat itu? Dan
kenapa ia bisa berhalusinasi sebegitu nyata? Kenapa semuanya terasa begitu
nyata? Kenapa imajinya begitu kuat merasakan kehadiran Irene? Dan berjuta ‘kenapa’
lainnya hadir dalam benaknya.
Kim, jangan
sedih, aku disini.
Ia merasakan
Irene memeluk jiwa rapuhnya. Ia begitu rapuh. Ia merutuki imajinya. Setelah 9
tahun, ia tidak melupakan gadis itu. Setelah 9 tahun, bahkan aroma gadis itu
masih tertinggal kuat dalam dirinya. Gadis yang pertama kali ia sukai. Gadis
tomboy yang hobinya menjahilinya apapun yang terjadi. Gadis yang pergi secara
tiba-tiba dari sisinya.
Seokjin membenci
hari-harinya selama dua minggu ini. Hari dimana ia hanya berpikir dan
berimajinasi kalau Irene benar-benar ada disisinya. Hari dimana ia hanya
berilusi, kalau Irene selalu menemaninya. Ia membenci ilusinya itu.
Seokjin mengambil
sebuah foto yang dikirimkan Irene bersama e-mailnya. Seokjin mencetaknya
sendiri. Ia menatap sendu foto itu. Di sebelahnya, bagai hologram tak terlihat,
bayangan Irene menangisi apa yang terjadi. Bayangan itu menatap sosok laki-laki
yang ia sukai sejak dulu yang kini tengah menatap fotonya. Bayangan itu
menyesali segalanya, rasanya, ia ingin merutuki Tuhan.
Bayangan itu
menyesali keputusannya untuk ikut bersama ibunya ke Swiss. Bayangan itu
merutuki dirinya yang tidak peka dan tidak menyatakan apa yang harus ia
katakan. Bayangan itu ingin merengkuh tubuh sahabat-sekaligus cinta
pertamanya-. Ingin sekali, tapi tiada mungkin.
Seokjin memeluk
foto itu, lalu berkata dengan sendu,
Ren, ada satu
hal yang aku tepati untukmu. Aku tidak melupakanmu. Aku menyayangimu. Kau
sangat tega, pergi dari diriku. Huh, kau tahu, aku sangat merindukanmu. Jahat
sekali, kau meninggalkan aku sendirian dengan kerinduanku padamu yang terlalu
besar.
Kim, maafkan
aku.
Angin malam dari
luar apartemen Seokjin berhembus menyapanya. Entah kenapa, angin itu seperti
menyampaikan apa yang tengah ia rasakan. Entah kenapa...
-
Fin.
a/n : Finally,
setelah sekian lama ff ini terbengkalai, selesai jugaa. mian kalau ceritanya agak maksa atau
apapun itu. Comment and review juseyo~^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar