Sabtu, 21 November 2015

Without You

Without You
Arinapark Present
Poster by Xyoblue @ Indo Fanfictions Arts
Romance;AU | Parent Guidance 13 | Vignette
BTS’s Jin and Red Velvet’s Irene, slight! Red Velvet’s Seulgi, slightmention! EXO’s Lay
Posted on : arindaliya.wordpress.com and [upcoming] btsfanfictionindonesia.blogspot.com

My Disclaimer : This story is officially mine. Jin and Irene are belong to their parents, fans, agencies and God ofc. Maapkan daku kalau ceritanya maksa atau jelek. Maapkan daku juga kalau pairingnya ga sreg atau ga dapet feelnya. Tapi, yang mau baca, terimakasih dan review juseyo~ gomawo~ /bow bareng trio maknae/

[ Recommended song : BEAST-Without You (The Scholar Who Walks The Night OST Part 3) ]
-
Tanpamu,aku hilang.” –Kim Seokjin
-
-
Sebuah kemajuan besar kalau sahabatnya, Irene, Ingin bertemu dengannya. Sudah hampir 5 tahun, sejak kelulusan SMPnya, ia tidak bertemu dengan gadis itu.
Seokjin mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja di hadapannya. Ia mengerucutkan mulutnya. Ia benci menunggu dan kebiasaan Irene,sahabatnya, telat.
“Seokjin-ah, mianhae” tetiba gadis itu muncul di hadapannya sambil membawa sekantong sayur-mayur dari supermarket sebelah.
“huh, bisa-bisanya kau menjadikan telat sebagai hobi.” Gerutu Seokjin. Irene hanya nyengir kuda. Ia tahu permintaan maaf tidaklah cukup untuk seorang Kim Seokjin. Jadi, sebelum pergi ke kafe tempatnya bersama Seokjin sekarang ia membeli sebuah buku resep makanan yang baru terbit kemarin untuk Seokjin sebagai sogokannya.
“Nah, ini untukmu” irene menyodorkan buku resep itu. Seokjin mendecak lalu berkata, “Aku sudah membelinya. Ini.” Seokjin menunjukkan buku yang sama seperti yang Irene beli. Irene mendengus.
“Tahu begitu, aku takkan membelikannya.”
“Aku tidak menyuruhmu membelinya.”
Seokjin terkekeh geli melihat wajah Irene yang setengah marah setengah malu. Ia lalu menopangkan dagu di atas telapak kedua tangannya yang bertumpu pada meja di depannya. 10 detik kemudian pesanan Seokjin datang. Secangkir vanilla latte dan secangkir capuccino. Irene mengambil cangkir capuccino.
Ya! Itu punyaku! Biasanya kau akan mengambil vanilla latte!”
Irene yang sedang menyesap capuccino itu berhenti lalu menatap mata Seokjin serius, “Aku sedang tidak mood minum vanilla latte.” Seokjin cukup sadar untuk mengetahui tingkah sahabatnya yang aneh ini. Ia masih ingat kalau Irene ini vanilla latte-addicted. Bahkan, teman begadangnya selama ini bukan kopi, melainkan vanilla latte ini.
Seokjin memandang Irene keheranan.
“Apa?”
Tumben saja. Biasanya, kau bisa menghabiskan 7 cangkir vanilla latte dalam sehari. Bahkan kalau dihadapkan dengan pilihan antara vanilla latte atau kue pai, kau memilih vanilla latte. Tapi, sekarang kau memilih capuccino. Boleh ku tahu mengapa, nona Bae?” Tanya Seokjin sambil agak memiringkan wajahnya. Seketika Irene meletakkan cangkir capuccino-nya.
“Terima kasih sudah mengingatnya,Kim. Aku memilih capuccino karena Xing menyukainya.”
Kalimat kedua yang dilontarkan Irene sukses membuatnya tersenyum secara paksa.
-
-
Sebuah kenyataan kala Seokjin menyukai Irene secara tidak sengaja. Seokjin mengakuinya. Ia pernah membaca kalau tidak akan ada ‘murni’ persahabatan kala itu terjadi antara laki-laki dan perempuan. Dari 24 tahun hidupnya, ada kurang lebih 15 tahun hidupnya ia habiskan bersama perempuan bernama Irene itu. Sejak kelahirannya, ada Irene di sisinya. Sejak kelahirannya, tidak sedetikpun Irene meninggalkannya. Ia merasa ada jika Irene ada. Ia sadar, kadang bersama Irene, ia akan berubah enjadi gila.  Dan, itu masih tetap membuatnya jatuh cinta pada Irene.
Sekalipun mereka terpisah sejak SMA dan baru bertemu kala sudah lulus kuliah, perasaan Seokjin tidak berubah sejak 9 tahun lalu. Sejak awal, ia menyadari kalau ia menyukai Irene. Seokjin yang terus menerus bersama Irene merasa terbiasa dengan gadis itu. Seokjin tidak bisa menghalangi takdirnya menyukai Irene.
Namun, ia merasa sebal karena ini bukan saat yang tepat. Ada satu kenyataan yang membuat Seokjin harus terus menata hatinya.
Irene menyukai Yixing. Si Orang China Baru yang ada di tempat kerjanya.
-
-
Begitu keluar rumah, Seokjin kaget bukan main kala melihat dandanan Irene.
“Selamat pagi,Kim~” Sapa Irene. Tidak seperti Seokjin yang biasanya akan mendecih lalu berpura-pura tak acuh, ia malah mematung sambil melongo.
Irene yang ada di hadapannya kali ini sangat berbeda dari biasanya. Irene yang ia tahu adalah Irene yang kalau berangkat ke tempat editoring dengan menggunakan celana jins,kaus pendek lalu dibalut kardigan dan rambut diikat ke belakang. Ditambah, dengan permen karet rasa mint yang sudah dikunyahnya begitu bertemu dengan Seokjin. Sederhana. Tapi, Irene yang dihadapannya adalah Irene yang memakai pink dress selutut dengan rambut digerai. Tanpa ada permen karet. Ia tampak begitu... cantik.
“Kim,” Seokjin mengerjapkan matanya kaget sementara Irene terkekeh di hadapannya, “Kaget?” Tanya irene. Seokjin hanya mengangguk pelan. Irene lalu tersenyum jumawa, merasa menang karena akan mengejutkan dua orang. Kim Seokjin dan Yixing.
Sepanjang jalan menuju kampus, Irene bercerita kesana-kemari. Tentang chatnya bersama Yixing. Tentang kenapa ia melakukan  semua ini. Tentang hari-harinya sebagai seorang editor muda. Tentang apa yang akan terjadi hari ini. Tentang flashback masa lalu persahabatan mereka. Tentang apa yang akan terjadi hari ini.
Ren, kenapa kau melakukan ini semua? Sampai kapan semua ini berakhir?.
-
-
Hari ini, Seokjin tidak melihat penampakan sahabatnya yang telah lama ia sukai itu. Pagi tadi, ia memang tidak pergi ke supermarket bersama. Ia memiliki pekerjaan di restoran yang harus ia lakukan. Membiarkan Irene ke supermarket duluan lalu menunggunya di kafe tempat dua minggu ini mereka bertemu. Tapi, tetap saja ia tidak melihat gadisnya itu.
Ia hanya tiba-tiba menghilang. Padahal, baru dua minggu ia bertemu dengan Irene yang telah berpisah dengannya selama 9 tahun. Bayangan gadis tomboy itu mampir di pelupuk matanya.
-
Ding dong
Tidak ada jawaban. Sama seperti kebanyakan tamu yang datang berkunjung ke sebuah rumah, Seokjin berharap pintu yang diketuknya bersambut. Entah penyambutan seperti apa yang akan ia dapatkan. Ia hanya berharap, apa yang ia cari ada didalamnya.
Pintunya terbuka. Muncullah sesosok perempuan yang menurutnya lebih muda darinya. Siapa?.
Seokjin berusaha menahan kekagetannya yang sudah menyeruak keluar. Perempuan yang ada di hadapannya lebih kaget.
nuguseyo?” Tanya si perempuan.Seokjin agak gelagapan.
“Ah, Aku Seokjin. Kim Seokjin” tangannya terulur untuk berkenalan dengan si perempuan.
“Aku Seulgi. Kang Seulgi. Omong-omong, ada yang perlu saya bantu, Tuan Seokjin?”
A-Ani. Aku hanya ingin bertanya, kemana perginya Irene?”
“Irene?” perempuan itu malah mengernyiitkan dahinya.
“Ya maksudku, penghuni apartemen ini. Kemarin sore, ia masih disini.” Jelas Seokjin. Seulgi malah menatap Seokjin sambil memutar matanya-memaksa otaknya bekerja menggali memori yang ia miliki-.
“Penghuni apartemen ini adalah aku, sejak seminggu yang lalu.” Dar! Seokjin seketika pucat pasi,ada satu hal yang ia lupakan, “Menurut berita yang kudapatkan-“
“Jangan lanjutkan! Aku sudah tahu kelanjutannya!”
Seokjin melengang pergi meninggalkan lorong (bekas) apartemen sahabatnya. Begitu sampai di apartemennya, ia membanting dirinya kasar. Lalu menatap sebuah foto berbingkai. Fotonya bersama Irene saat kelulusan SMP. Sebelum Irene pergi dari Korea. Sebelum Irene ikut pergi bersama ibunya ke Swiss. Sebelum takdir buruk itu ia terima.
Seokjin mengambil ponselnya. Ia menscroll daftar pesan elektronik masuk yang didapatnya. Dapat. Ia menemukan pesan elektronik yang ia dapatkan dari Irene. Pesan pertama dan terakhir sejak kepergiannya 9 tahun lalu. Tertera di tanggal penerimaan, dua minggu yang lalu.
KIM! Aku kembali ke Korea hari ini! Kau tidak melupakanku, kan? Jangan becanda, Kim. Aku tahu kau takkan pernah melupakanku. Maafkan aku karena selama ini aku benar-benar tidak bisa dihubungi. Swiss benar-benar katro. Selalu saja musim dingin. Bahkan musim panasnya pun terasa dingin. Ibuku benar-benar kacau di Swiss. Maksudku, demi kepentingannya, ia memutus semua akses komunikasiku dengan orang korea. Jahat,kan?.  Ah, aku harus pergi, pesawatnya akan segera berangkat, jangan lupa untuk menjemputku di bandara, Kim~ dah, aku merindukanmu.

Tertanda,
Sahabatmu,
Bae Irene yang cantik^^
Seokjin menangis. Ia tidak pernah menepati janjinya untuk menjemput Irene. Ia tidak akan pernah menemui gadis tomboynya di bandara. Bayangan gadisnya itu, hanya sampai pada imajinya. Seokjin duduk melipat lututnya. Analogi dari memeluk jiwanya yang rapuh. Sampai kapanpun, Seokjin tidak akan menepati janjinya.
Kecelakaan yang merenggut segalanya dari Seokjin. Kecelakaan pesawat yang mengambil Irene dari sisinya. Ia merutuki takdir. Kenapa Irene harus pergi dengan pesawat itu? Dan kenapa ia bisa berhalusinasi sebegitu nyata? Kenapa semuanya terasa begitu nyata? Kenapa imajinya begitu kuat merasakan kehadiran Irene? Dan berjuta ‘kenapa’ lainnya hadir dalam benaknya.
Kim, jangan sedih, aku disini.
Ia merasakan Irene memeluk jiwa rapuhnya. Ia begitu rapuh. Ia merutuki imajinya. Setelah 9 tahun, ia tidak melupakan gadis itu. Setelah 9 tahun, bahkan aroma gadis itu masih tertinggal kuat dalam dirinya. Gadis yang pertama kali ia sukai. Gadis tomboy yang hobinya menjahilinya apapun yang terjadi. Gadis yang pergi secara tiba-tiba dari sisinya.
Seokjin membenci hari-harinya selama dua minggu ini. Hari dimana ia hanya berpikir dan berimajinasi kalau Irene benar-benar ada disisinya. Hari dimana ia hanya berilusi, kalau Irene selalu menemaninya. Ia membenci ilusinya itu.
Seokjin mengambil sebuah foto yang dikirimkan Irene bersama e-mailnya. Seokjin mencetaknya sendiri. Ia menatap sendu foto itu. Di sebelahnya, bagai hologram tak terlihat, bayangan Irene menangisi apa yang terjadi. Bayangan itu menatap sosok laki-laki yang ia sukai sejak dulu yang kini tengah menatap fotonya. Bayangan itu menyesali segalanya, rasanya, ia ingin merutuki Tuhan.
Bayangan itu menyesali keputusannya untuk ikut bersama ibunya ke Swiss. Bayangan itu merutuki dirinya yang tidak peka dan tidak menyatakan apa yang harus ia katakan. Bayangan itu ingin merengkuh tubuh sahabat-sekaligus cinta pertamanya-. Ingin sekali, tapi tiada mungkin.
Seokjin memeluk foto itu, lalu berkata dengan sendu,
Ren, ada satu hal yang aku tepati untukmu. Aku tidak melupakanmu. Aku menyayangimu. Kau sangat tega, pergi dari diriku. Huh, kau tahu, aku sangat merindukanmu. Jahat sekali, kau meninggalkan aku sendirian dengan kerinduanku padamu yang terlalu besar.
Kim, maafkan aku.
Angin malam dari luar apartemen Seokjin berhembus menyapanya. Entah kenapa, angin itu seperti menyampaikan apa yang tengah ia rasakan. Entah kenapa...
-
Fin.
a/n : Finally, setelah sekian lama ff ini terbengkalai, selesai jugaa. mian kalau ceritanya agak maksa atau apapun itu. Comment and review juseyo~^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar