Kehilangan. Satu kata itu termasuk dalam daftar “ sesuatu yang tidak boleh terjadi “ dalam
diri beberapa manusia. Tapi setelah dipikir-pikir, manusia belum cukup “memiliki”
untuk merasakan suatu kehilangan. Jadi, untuk apa manusia merasa kehilangan?. Kita
hanya menyiksa diri kita dengan merasakan kehilangan sesuatu yang sejatinya
memang bukan milik kita. Kehilangan telah menjadi satu ketakutan yang berakar
pada diri manusia.
Sejatinya, kita
bukan merasa “kehilangan”. Kehilangan yang sering kita maksud berujung pada
satu kata, “kehampaan”. Kita merasa
kehilangan karena ada kehampaan yang mengikutinya. Kehampaan yang jarang sekali
kita sadari. Kehampaan yang membuat kehilangan.
Sebagai makhluk
sosial, kita hidup dengan berinteraksi dengan orang-orang. Ada yang sering,
jarang bahkan tidak pernah bicara apapun dengan kita. Dengan orang yang sering
berinteraksi dengan kita, seringkali tercipta satu hubungan dengan “keintiman”
yang jarang sekali didapat dengan orang lain. Ada perasaan nyaman yang hadir
bersama keintiman itu. Dan biasanya, rasa kehilangan itu hadir kala orang yang
sudah ada perasaan itu “tiada ditempatnya”.
Ketidakterbiasaan
kita tanpa orang itu berubah menjadi perasaan kehilangan dan kehampaan. Dalam praktiknya,
banyak orang yang menyiksa dirinya dengan perasaan kehilangan yang kita buat
sendiri. Tapi, kenapa Allah atau Tuhan menghadirkan perasaan itu?.
Manusia memang
kadang lalai dalam hal apapun, termasuk dalam hal mensyukuri apa-apa yang telah
ia dapat. Dalam hal kehilangan seseorang, Allah mengingatkan kita untuk selalu
bersyukur dapat bertemu orang-orang. Allah mengajarkan betapa berharga setiap
waktu yang kita miliki. Allah menegur kita yang jarang bersyukur padanya. Dan lewat
perasaan kehilangan inilah seharusnya kita sadar bahwa betapa Allah menyayangi
kita. Sadar bahwa betapa besar nikmat yang telah Allah berikan, sampai kita
tidak mampu menghitungnya.
Dan dari
kehilangan, kita seharusnya juga belajar dan memahami sebuah pertanyaan, apakah
akan ada yang merasa kehilangan kala kita tiada? Atau bahkan yang ada hanya
orang-orang yang tersenyum karena kita tiada?
Di hari ke-144 ia
pergi,
Arinda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar