Minggu, 22 November 2015

K-E-H-I-L-A-N-G-A-N

Kehilangan. Satu kata itu termasuk dalam daftar “ sesuatu yang tidak boleh terjadi “ dalam diri beberapa manusia. Tapi setelah dipikir-pikir, manusia belum cukup “memiliki” untuk merasakan suatu kehilangan. Jadi, untuk apa manusia merasa kehilangan?. Kita hanya menyiksa diri kita dengan merasakan kehilangan sesuatu yang sejatinya memang bukan milik kita. Kehilangan telah menjadi satu ketakutan yang berakar pada diri manusia.
Sejatinya, kita bukan merasa “kehilangan”. Kehilangan yang sering kita maksud berujung pada satu kata, “kehampaan”.  Kita merasa kehilangan karena ada kehampaan yang mengikutinya. Kehampaan yang jarang sekali kita sadari. Kehampaan yang membuat kehilangan.
Sebagai makhluk sosial, kita hidup dengan berinteraksi dengan orang-orang. Ada yang sering, jarang bahkan tidak pernah bicara apapun dengan kita. Dengan orang yang sering berinteraksi dengan kita, seringkali tercipta satu hubungan dengan “keintiman” yang jarang sekali didapat dengan orang lain. Ada perasaan nyaman yang hadir bersama keintiman itu. Dan biasanya, rasa kehilangan itu hadir kala orang yang sudah ada perasaan itu “tiada ditempatnya”.
Ketidakterbiasaan kita tanpa orang itu berubah menjadi perasaan kehilangan dan kehampaan. Dalam praktiknya, banyak orang yang menyiksa dirinya dengan perasaan kehilangan yang kita buat sendiri. Tapi, kenapa Allah atau Tuhan menghadirkan perasaan itu?.
Manusia memang kadang lalai dalam hal apapun, termasuk dalam hal mensyukuri apa-apa yang telah ia dapat. Dalam hal kehilangan seseorang, Allah mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dapat bertemu orang-orang. Allah mengajarkan betapa berharga setiap waktu yang kita miliki. Allah menegur kita yang jarang bersyukur padanya. Dan lewat perasaan kehilangan inilah seharusnya kita sadar bahwa betapa Allah menyayangi kita. Sadar bahwa betapa besar nikmat yang telah Allah berikan, sampai kita tidak mampu menghitungnya.
Dan dari kehilangan, kita seharusnya juga belajar dan memahami sebuah pertanyaan, apakah akan ada yang merasa kehilangan kala kita tiada? Atau bahkan yang ada hanya orang-orang yang tersenyum karena kita tiada?

Di hari ke-144 ia pergi,

Arinda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar