Agnostik. Kata tersebut
mungkinlah terdengar asing di telinga kebanyakan orang. Seringkali agnostik
disamakan dengan atheis, sehingga banyak orang yang salah mengartikan agnostik.
Kesalahpahaman yang terjadi itulah yang perlu kami perbaiki. Agnostik, bukanlah
suatu hal yang harus disalahkan karena dalam hal ini pasti ada alasan mengapa
seseorang memilih untuk menjad agnostik. Agnostik bukanlah Atheis dan Atheis
bukanlah Agnostik. Atheis yang sudah menjadi “musuh” terlebih lagi keadaan
keaagamaan masyarakat- mengingat di Indonesia pernah terjadi Gerakan 30
September yang didasari oleh ideologi
komunis yang meniadakan Tuhan- bukanlah bagian dari agnotitisme yang akan kita
bahas. Nah, disinilah permasalahannya.
Pemahaman tentang perbedaan
agnostik dan atheis memang sangat dibutuhkan. Terlebih lagi, sebaiknya kita
perlu mewaspadai timbulnya “keagnostikan” dalam diri kita. Siapa tahu, sifat
agnostik itu sudah tumbuh terlalu baik dalam diri kita sehingga kita tak
menyadarinya. Pentingnya menganalisa keagnostikan dalam diri kita adalah untuk
lebih mewaspadai orang yang “terjangkit” agnostik itu sendiri. Dan juga
bagaimana cara menghadapi para agnostik. Dengan tetap menjaga tali pertemanan
dengan mereka tanpa kesalahpahaman kita terhadap agnostik,tali pertemanan yang
sudah terjalin tetap utuh dengan saling menghormati tanpa adanya kesalahpahaman
menjadi hal yang baik,bukan?.
Tidak seharusnya kita menjudge
seorang agnostik sama dengan atheis. Karena mereka memang berbeda. Jika kita
menjudge agnostik adalah atheis tanpa mengetahui dengan pasti apa perbedaan
agnostik dengan atheis, maka kemungkinan terbesar yang terjadi adalah terjadi
perpecahan yang tidak diinginkan. Sekalipun jika kita telah mengetahui apa itu
agnostik, apa kita bisa menghadapi mereka?. Bagaimana yang terjadi jika justru
kitalah yang agnostik tanpa kita sadari?. Apa yang harus kita lakukan?. Apa
yang harus kit lakukan jika ada orang yang secara terang-terangan mengaku bahwa
dia adalah seorang agnostik?.
Jangan panik. Memahami dan saling
percaya menjadi “jurus” utama dalam menghadapinya. Sebelum kita mencap seseorang
sebagai seorang agnostik, mengetahui siapa mereka sangat diperlukan. Maka dari
itu, sifat pengertian dan tidak mudah marah memang diperlukan. Kita hanya perlu
mengerti keberadaan mereka. Disinilah tantangannya. Kita perlu menganalisa
kibat baik dan buruknya agnotitisme bagi negeri ini. Bagaimana jika ternyata
banyak orang yang kita temui merupakan agnostik?. Apa yang harus kita lakukan?.
Apa yang terjadi pada negeri ini jika banyak orang yang bahkan tak tahu apa itu
agnostik sebenarnya?. Bagaimana jika orang yang tak mengerti itu akan “egois”?.
Haruskah kita menghindari orang-orang agnostik?. Jawabannya akan segera kita
temukan.