Senin, 25 Mei 2015

Zyra

Aku mengamati nama yang tercetak pada layar. Abigail Adriella. Nama yang indah. Setidaknya nama itu tidak terdengar aneh seperti namaku. Fazyra Rahma. Tapi, walau nama itu sangat indah, tapi kesan kalau itu bukan nama orang muslim membuatku takut. Aku bukannya takut dengan orang non-is. Tapi, yang ku takutkan adalah imanku. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana jika imanku tergadaikan.
Hah? Apa? Maksudnya? Ooh, jadi kau belum tau siapa itu Abigail Adriella dan ingin mengetahuinya? Baiklah. Dia adalah partner belajar Bahasa Jepangku yang sekarang tinggal di Korea Selatan. Asal kau tahu, dia bukan orang korea. Dia orang indonesia.
Darimana aku mengetahui tentang Abigail Adriella? Dia cukup aktif di salah satu media sosial. Jadilah, setelah 3 hari kami saling mengobrol via internet, aku memintanya menjadi partnerku. Dan, baru hari ini ia mengirim email. Yaa, layar yang sedari tadi aku tatap menampilkan email itu. Email yang membuatku ‘terusik’.

From : Abigail Adriella < abigailadr@gmail.com >
Subyek : Perkenalan kembali
Hai, Fazyra Rahma. Namamu susah sekali ku sebut karena aku cadel R. hihii, akupun kesulitan menyebut namaku. Dari namamu, aku sudah tahu, kau orang Islam kan?. Di Korea ini lumayan banyak sih, komunitas islam itu. Hanya saja, aku kurang suka dengan komunitas itu. Oh ya, apakah kau juga berjilbab? Bagiku, jilbab menyulitkan pergerakan seseorang. Apalagi di Seoul yang serba dinamis. Jilbab juga tanda teroris,kan? Aku harap kau tidak memakai pakaian orang-orang tak tahu diri itu.
Sekian.

*
Aku masih “merutuki” gadis bernama Abigail Adriella itu. Bagaimana tidak, dia sudah menghina agamaku. Beraninya ia menguji keimananku. Mungkin, aku takkan memaafkannya. Tapi, mau tak mau aku membalasnya, kan?. Ya, rasanya tidak enak saja.

To : Abigail Adriella <abigailadr@gmail.com >
Subyek : perkenalan kembali
Hai Abigail. Ya, kau tau itu. Agamaku sudah tersirat dengan jelas dari namaku. Tapi, kau jangan langsung memusuhiku karena aku muslim,ya. Kau ingin tahu aku berjilbab atau tidak? Sebaiknya, kau kembali ke Indonesia. Oh ya, program beasiswa yang kau jalani itu berakhir kapan?. Aku harap kita bisa bertemu di Indonesia nanti. Aku tinggal di Bogor. Bagaimana denganmu?.oh ya, kenapa tidak kau coba bertoleransi?
Note : panggil aku Zyra saja.

-Zyra.

*

“Zyra, kamu dipanggil ke ruang guru, tuh!” perintah Faisal padaku. Ya, dia kawan kelasku. Hanya kawan kelasku loh, jangan berpikir macam-macam. Aku yang sedang makan mie ayam pak Karto kesukaankupun harus terpaksa.
Bye bye, mie ayam. Sebentar lagi aku akan balik kok.” Pamitku. Apa? Kalian jangan heran. Aku ini memang aneh.
Begitu sampai di ruang guru, Pak Malik, Guru Bahasa Inggrisku, tersenyum dan mengajakku ke mejanya. Aku hanya bisa patuh. Apalagi yang harus aku lakukan?.
“Zyra, ini buat kamu” kata Pak Malik menyerahkan secarik kertas. Brosur. Itu brosur!. Kau tahu itu brosur macam apa?.

Moslems in South Korea needs you!.

Program pertukaran pelajar muslim ke… SEOUL!. Asal kau tahu saja, aku sa……ngat ingin pergi ke Seoul. Tapi, kenapa Pak Malik memberi itu padaku. Jujur, aku tak pernah memberi tahu apapun tentang keinginanku itu pada orang-orang. Kedua, aku bukan murid yang pintar sekali. Kecerdasanku merupakan rata-rata, kau tahu?. Jadi, kenapa?
“Bapak tahu kamu mau.” Kata-kata Pak Malik tadi…
“Bapak bisa….” Aku memberikan isyarat “bisa baca pikiran” pada Pak Malik. Kau mau tahu, bagaimana isyaratnya? Baiklah, aku mengusap wajahku tanpa menempel dan menunjuk samping dahi kananku. Kau belum tahu apa itu “mengusap wajah tanpa menempel”? aduh, bagaimana ya. Memang adegannya sulit diungkapkan dengan kata-kata seperti ini. Kau tahu drama Korea Master Sun tidak?. Kalau kau tahu, itu andalannya Jo Jong Woon ke Tae Gong Shil. Kalau tidak tahu, ya cari tahu sajalah. Aku bingung.
Kau tahu apa reaksi Pak Malik?. HANYA TERSENYUM. Mencurigakan.
“Daftar saja dahulu. Bisa kok” Kata Pak Malik memberiku semangat. Aku makin semangat. Aaah, tak sabar untuk menceritakan hal ini pada ayah, ibu dan Bang Faiz.

*

Ngomong-ngomong, tadi kan aku agak sedikit membahas drama korea ya?. Yaa, asal kalian tahu, aku sama seperti remaja putri lainnya. Aku yang umurnya relatif terbilang masih ababil, suka juga dengan drama korea dan anime jepang. Tapi, tidak sampai over dan bisa melalaikan apa yang sudah menjadi kewajibanku, kok.  Ya, hanya sekedar minat saja. Sebagai hiburan semata.
“Zyra! Makan!” suruh ibuku. Okay, inilah saat yang tepat untukku membicarakan perihal beasiswa itu.
*
“Bu, Yah, gimana kalau misalnya Zyra coba-coba ikut tes beasiswa ke luar negeri terus dapet?” tanyaku ditengah-tengah makan malam. Bang Faiz sepertinya kaget hingga tersedak. Ayah dan Ibu masih diam.
“Ngaco aja kamu! Emang ada?” Komentar Bang Faiz. Hiiih, itu orang memang suka sirik. Nyebelin!. Ayah dan ibu mulai buka mulut.
“Ya, kalau itu bagus kenapa tidak?” kata Ayah. Ibu ikutan menyetujui perkataan ayah. Bang Faiz malah kaget setelah mendengar kata-kata ayah  dan ibu. Aku menjulurkan lidahku. Tentu saja pada Bang Faiz.
“Aku ingin mendaftar untuk beasiswa di Korea,boleh?” Pintaku. Tolong. Tolong izinkaaann.
“Baiklah” Jawab Ayah. Akupun tersenyum. Bagaimana tidak senang, ayah mengizinkan. Ibuku pun begitu. Hanya Bang Faiz saja yang masih  “setengah hati”.
Okaaaayyy!!! Izin sudah didapat. Tinggal mengurus pendaftaran!!!. SEOUULLL, I’m coming!!!

*

Kau tahu tidak? Itu ceritaku 8 bulan yang lalu. Hehehehe. Maafkan aku yaa. Dan sekarang, aku di Seoul. Tepatnya di Itaewon. Aku bertemu banyak orang disini. Dan, tebak. Aku bertemu satu orang. Kau sudah tahu siapa? Okay, kau bisa menebaknya. Dia, Abigail Adriella.

Flashback 6 bulan yang lalu, saat aku baru menjejakkan kaki di Negeri Gingseng ini.
“Kemana ya?” Aku mencari seseorang. Yaa, kau tahu siapa dia. Abigail Adriella. Aku mengiriminya kabar kalau aku berhasil mendapatkan beasiswa di Jepang. Dan, tempat Adriel-begitulah ia memintaku memanggilnya-mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar, di Seoul juga. Mungkin ia akan kaget melihat penampilanku yang berhijab rapat sedangkan ia kurang bisa bertoleransi dengan manusia berhijab.
Mataku masih menyapu pelataran terminal International Arrival di Incheon International Airport. Mencari sesosok Adriel yang-katanya-membawa papan namaku.
Fazyra Rahma. WELCOME!>.<
Ketemu juga akhirnyaaa.
“Hai, Adriel” sapaku sambil melambaikan tangan. Wajahnya yang tadi aku lihat dihiasi oleh senyum yang manis kini kulihat sebagai ekspresi ternyata-kau-berjilbab­.
“Hai.” Balasnya sedikit dingin, “Kurasa memang benar katamu, aku terlalu egois dan harus mencoba untuk menjadi toleran” Lanjutnya. Aku tersenyum. Kami akan seapartemen. Yah, program beasiswa yang aku ikuti tidak menyediakan fasilitas apartemen atau apalah itu. Akupun harus menunda studyku di SMA selama 1 tahun. Baiklah, asal aku bisa ke Korea. Hihiii.
Kami bergerak menuju halte bus terdekat untuk sampai kee…… Itaewon!!.
Ya, di Itaewon inilah Adriel tinggal. Dan Itaewon-lah tempat komunitas muslim terbesar di Seoul berada. Sebenarnya posisi Itaewon tidak terlalu dekat dengan pusat kota Seoul, tapi aku suka menyebut kalau Itaewon berada di Seoul. Dan, disini aku lebih mudah menemukan segala yang halal-halal.

*

Kembali lagi ke kehidupanku kini. AKU MASIH HOMESICK!. Ya, aku masih sangat kangen dengan Indonesia. Dan disini sedang Autumn>.< ulala~
Aku menjejakkan kaki pertama kali saat musim semi. Dan sekarang, sudah musim gugur. Baiklah, aku ceritakan bagaimana kehidupanku satu apartemen bersama Adriel.

*
Awal-awal dia masih kagok dengan penampilanku. Ya, dia masih kaget kaget begitulah. Dan sekarang, kami sudah dekat. Ya, kami menghargai perbedaan keyakinan kami. Aku kadang-kadang ‘tergoda’ olehnya. Misalnya saja, saat musim panas kemarin.
Ada apa? Ya, AKU IRI!. Jujur, aku pernah merasakan hal itu. Aku ingin berpakaian ‘minim’. Bagaimana tidak tergoda, saat musim panas, kala teman-teman sekitarku berpakaian serba terbuka, aku harus berpakaian tertutup bahkan Kyung Hee, kawan baik Adriel-dan juga kini, kawan baikku- pernah mengomentari, “Zyra, apakah kau tidak salah kostum? Ini musim panas, loh” katanya. AAARRRGGHHH!! Dan itulah saat aku diuji. Okay, jangan salah sangka aku ikut-ikutan mereka. Aku berusaha untuk istiqomah dalam menjalani agamaku. Aku harus setia. Hohoooo.
Well, sekarang ini, seharusnya Adriel sudah pulang. Tapi ke-
“Aku pulang!”
Okay, dia sudah pulang. Malam ini giliran aku memasak. Kami memang saling memasak. Dan, dia-karena orang Indonesia- memiliki selera yang sama. Daaann, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jadi, aku menyiapkan rendang. Hahahaa, aku sambil nyontek. Jangan bilang-bilang yaaa.
“Kamu bisa membuat rendang?” Tanyanya begitu menyicipi rendang buatanku. Aku hanya tersenyum.
“Tidak juga.” Jawabku sambil mengangkat bahu dan ia tersenyum. “Tapi ini sangat enak!! Ajarkan aku cara membuatnya okaaay? Biar di Indonesia nanti aku bisa pamer pada papa dan mamaku.” Ucapnya.
“Baiklah, nanti aku beri tahu caranya” kataku akhirnya. Uhuuu senangnya dirikuu. Bagaimana tidak senang, baru pertama kali masak rendang dibilang enak. Yiihaaa.
Kami banyak bercerita. Terutama tentang 2 tahun terakhir. Saat Adriel baru menginjakkan kakinya di Seoul ini. Layaknya dua orang sahabat lama, kami saling bertukar cerita. Dan, tebak, kami juga saling menceritakan orang yang kami suka. Dan, Adriel ternyata sudah memiliki namjachingu atau pacar orang korea! Dan katanya itu sudah berlaku sejak sebulan aku ada di Korea ini.
“Namanya Sung Jae. Lihat?” katanya sambil menyodorkan handphonenya yang sudah terpampng wajah seorang asia.
Aku terkikik. “ Kukira Sung Jae BTOB. Habis, namanya mirip!” komentarku. Dia hanya tersenyum nakal.
“Bagaimana denganmu, Ra?” Tembaknya. Jujur, aku memang sedang menyukai seseorang yang berada di Indonesia. Lebih tepatnya temanku sendiri. Tapi, aku bukan tipe orang yang suka mengumbar perasaan. Apalagi tentang…. Dia.
Okee, aku hanya membalas kata-kata Adriel dengan senyum. Yaa hanya tersenyum. Adriel menatapku aneh.
“Jadi..?”Katanya minta kepastian. Mungkin ia telah menduga-duga.
“Aku juga menyukai seseorang, Adriel. Aku masih normal.” Jawabku. Adriel mengernyitkan dahinya yang cukup ‘jenong’.
“kau bilang padanya?” Tanya Adriel. Aku menggeleng. “Kenapa?! Bilanglah! Kalau kau suka padanya, ya jangan dipendam sendiri! Nanti sakit, loh. Bagaimana jika ia suka dengan orang lain? Kan siapa tahu dia juga suka denganmu.” Hihii sungguh, kata-kata Adriel barusan ingin membuatku tertawa.
“Terserah aku lah, mau bilang atau tidak ya suka-suka aku. Lagipula, aku tidak merasakan sakit apa-apa. Memendam sendiri itu jauh lebih indah, Adriel. Percayalah. Sayang seperti itu bukan untuk diumbar atau sekadar diungkapkan dengan kata-kata. Aku hanya percaya pada hatiku. Ya, lalu kenapa kalau orang yang aku suka menyukai orang lain? Apa hakku untuk melarang? Aku bukanlah siapa-siapa. Lagipula, itu hak setiap orang, kan untuk menyukai orang lain? Kalau dalam Islam, itu sudah fitrahnya manusia. Kalau dia suka denganku, yaa sudah mau diapakan lagi? Aku masih punya daftar panjang cita-cita untuk kugapai. Aku bukan terlalu membenci yang namanya pacaran atau semacam itu, juga bukan yang mendukung. Aku biasa saja. Aku hanya menjaga hatiku ,kok” jawabku panjang lebar.
“Baiklah, terserah kamu, Ra” Balasnya.
Kami melanjutkan obrolan kami. Banyak yang kami obrolkan. Ngalor ngidul. Begitulah istilahnya. Ngobrol bersama Adriel dengan menggunakan Bahasa Indonesia mengurangi kepayahanku yang harus selalu berkomunikasi dengan Bahasa Korea ataupun Bahasa Inggris. Aku juga banyak mendapat pelajaran dari gadis Nasrani itu. Kami tetap bersahabat. Imanku masih bisa kujaga.
Ah, ini masih awal-awal. Apakah kau penasaran dengan ceritaku yang bersahabat dengan Adriel selanjutnya? Baiklah. Tapi, sebenarnya aku rasa, untuk sekarang ini adalah penghabisan dahulu. Lain kali, aku akan menceritakannya padamu lagi.
AAAARGGHH!! AKU LUPA! AKU PUNYA PEKERJAAN RUMAH BAHASA KOREA DARI LEE SONSAENGNIM!!!

Aku akan lanjut cerita lagi nanti yaaah. Daaah~.

Rabu, 06 Mei 2015

Counter Strike (DRABBLE)


Title : Counter Strike : I’m the winner
 Author : Arinapark
Genre : Comedy, Humor, Family
Rating : G
Length : Drabble
Casts : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Park Jimin of BTS
Disclaimer : Casts semuanya milik orangtua, Tuhan Yang Maha Esa dan BigHit Ent. –selama masih ada kontrak-. Jalan cerita merupakan cerita author. Dont be plagiaters, guys!. Ini FF pertamaku. Jadi maaf jika ada salah-salah kata. Sorry juga kalau ini garing banget. Masih belajar. Untuk kedepannya, aku minta bantuan kalian agar bisa memperbaiki ff-ku ini. Thanks a lot for reading.
Warning :
Typo berserakan dimana-mana!
Happy Reading >.<
-
-
Pasti aku yang akan menang –Park Jimin
Hehehe, kau meremehkanku ya? –Kim Taehyung
“Itu”  apa, hyung? –Jeon Jungkook
-
-
“Heh, bantet! Sedang apa kau?” tanya Taehyung setelah melihat Jimin begitu konsentrasi dengan layar laptopnya.
“Lagi main Counter Strike! Ssshhh, pergi sana! Jangan ganggu! Lagi konsen nih!” Usir Jimin.
“yeee, ngusir lagi” Gerutu Taehyung. “eh,Chim, kita by one-an CS yuk!” ajak Taehyung tiba-tiba. Jimin menoleh.
“ngapain?” tanya Jimin yang kini telah menghentikan gamenya. “Kita tentuin siapa ace untuk Line 95 di BTS. Gimana? Setuju?” tantang Taehyung.
“Kau yakin mau duel denganku? Kalau kamu tetep ngotot mau lawan aku, pasti aku yang akan menang, alien” Kata Jimin setengah meremehkan.  “Hehehe, kamu meremehkanku, ya? Okee, kita lihat saja nanti!” dengan segera Taehyung log-in.
Mereka akhirnya larut dalam game.
1 menit
5 menit
10 menit
Ternyata, baru 10 menit bermain, tingkat kesuksesan Jimin dalam memainkannya tinggal 20% lagi kira-kira. Taehyung mulai frustasi. Jimin menunjukkan wajah makanya-sudah-kubilang-jangan-melawanku pada Taehyung. Jungkook datang.
“Hyung!” panggil Jungkook. Tak ada yang menoleh. Jungkook menghampiri Jimin.
“Kita sedang by one-an, Jungkook-ah. Dan tampaknya aku yang akan menang hahahahaha” seru Jimin yang berhasil membuat Taehyung geram. Jungkook hanya membulatkan mulutnya dan menonton permainan yang dilakukan Jimin. Tiba-tiba..
“ ’itu’ apa, Hyung? Ooh, tameng ya? Untuk pertahanan kan?” Tanya Jungkook polos sepolos-polosnya. Taehyung terkikik senang karena akhirnya tahu apa yang akan dilakukan Jimin. Jimin memasang muka sebal daaann..
Duar!!!
Akhirnya, Taehyung berhasil mematahkan pertahanan karakter game Jimin.
“YA!! JEON JUNGKOOK! KENAPA KAU BILANG, HAH?!” marah Jimin. Jungkook pun bangkit dan bersembunyi di balik punggung Taehyung sementara Taehyung masih terkikik geli.
“Park Jimin, lain kali kita lanjutkan mainnya ya?. Baterai laptop ku habis.” Kata Taehyung masih dengan senyum dan tawa yang ia tahan sembari meninggalkan Jimin. Jimin masih kesal. Dan menatap Jungkook yang “mengekor” di belakang Taehyung dengan tatapan Awas-kau-Jeon-Jungkook.
.Fin.