Aku mengamati nama yang tercetak pada layar. Abigail
Adriella. Nama yang indah. Setidaknya nama itu tidak terdengar aneh seperti
namaku. Fazyra Rahma. Tapi, walau nama itu sangat indah, tapi kesan kalau itu
bukan nama orang muslim membuatku takut. Aku bukannya takut dengan orang
non-is. Tapi, yang ku takutkan adalah imanku. Aku tak sanggup membayangkan
bagaimana jika imanku tergadaikan.
Hah? Apa? Maksudnya? Ooh, jadi kau belum tau siapa itu
Abigail Adriella dan ingin mengetahuinya? Baiklah. Dia adalah partner belajar Bahasa
Jepangku yang sekarang tinggal di Korea Selatan. Asal kau tahu, dia bukan orang
korea. Dia orang indonesia.
Darimana aku
mengetahui tentang Abigail Adriella? Dia cukup aktif di salah satu media
sosial. Jadilah, setelah 3 hari kami saling mengobrol via internet, aku
memintanya menjadi partnerku. Dan, baru hari ini ia mengirim email. Yaa, layar yang sedari tadi aku tatap
menampilkan email itu. Email yang membuatku ‘terusik’.
From : Abigail Adriella < abigailadr@gmail.com >
Subyek : Perkenalan kembali
Hai, Fazyra Rahma. Namamu susah sekali ku sebut karena
aku cadel R. hihii, akupun kesulitan menyebut namaku. Dari namamu, aku sudah
tahu, kau orang Islam kan?. Di Korea ini lumayan banyak sih, komunitas islam
itu. Hanya saja, aku kurang suka dengan komunitas itu. Oh ya, apakah kau juga
berjilbab? Bagiku, jilbab menyulitkan pergerakan seseorang. Apalagi di Seoul yang
serba dinamis. Jilbab juga tanda teroris,kan? Aku harap kau tidak memakai
pakaian orang-orang tak tahu diri itu.
Sekian.
*
Aku masih “merutuki” gadis bernama Abigail Adriella itu.
Bagaimana tidak, dia sudah menghina agamaku. Beraninya ia menguji keimananku.
Mungkin, aku takkan memaafkannya. Tapi, mau tak mau aku membalasnya, kan?. Ya,
rasanya tidak enak saja.
To : Abigail Adriella <abigailadr@gmail.com >
Subyek : perkenalan kembali
Hai Abigail. Ya, kau tau itu. Agamaku sudah tersirat
dengan jelas dari namaku. Tapi, kau jangan langsung memusuhiku karena aku
muslim,ya. Kau ingin tahu aku berjilbab atau tidak? Sebaiknya, kau kembali ke
Indonesia. Oh ya, program beasiswa yang kau jalani itu berakhir kapan?. Aku
harap kita bisa bertemu di Indonesia nanti. Aku tinggal di Bogor. Bagaimana
denganmu?.oh ya, kenapa tidak kau coba bertoleransi?
Note : panggil aku Zyra saja.
-Zyra.
*
“Zyra, kamu dipanggil ke ruang guru, tuh!” perintah
Faisal padaku. Ya, dia kawan kelasku. Hanya kawan kelasku loh, jangan berpikir
macam-macam. Aku yang sedang makan mie ayam pak Karto kesukaankupun harus
terpaksa.
“Bye bye, mie ayam. Sebentar lagi aku akan balik
kok.” Pamitku. Apa? Kalian jangan heran. Aku ini memang aneh.
Begitu sampai di ruang guru, Pak Malik, Guru Bahasa
Inggrisku, tersenyum dan mengajakku ke mejanya. Aku hanya bisa patuh. Apalagi
yang harus aku lakukan?.
“Zyra, ini buat kamu” kata Pak Malik menyerahkan secarik
kertas. Brosur. Itu brosur!. Kau tahu itu brosur macam apa?.
Moslems in South Korea needs you!.
Program pertukaran pelajar muslim ke… SEOUL!. Asal kau tahu
saja, aku sa……ngat ingin pergi ke Seoul. Tapi, kenapa Pak Malik memberi itu
padaku. Jujur, aku tak pernah memberi tahu apapun tentang keinginanku itu pada
orang-orang. Kedua, aku bukan murid yang pintar sekali. Kecerdasanku merupakan
rata-rata, kau tahu?. Jadi, kenapa?
“Bapak tahu kamu mau.” Kata-kata Pak Malik tadi…
“Bapak bisa….” Aku memberikan isyarat “bisa baca pikiran”
pada Pak Malik. Kau mau tahu, bagaimana isyaratnya? Baiklah, aku mengusap
wajahku tanpa menempel dan menunjuk samping dahi kananku. Kau belum tahu apa
itu “mengusap wajah tanpa menempel”? aduh, bagaimana ya. Memang adegannya sulit
diungkapkan dengan kata-kata seperti ini. Kau tahu drama Korea Master Sun
tidak?. Kalau kau tahu, itu andalannya Jo Jong Woon ke Tae Gong Shil. Kalau
tidak tahu, ya cari tahu sajalah. Aku bingung.
Kau tahu apa reaksi Pak Malik?. HANYA TERSENYUM.
Mencurigakan.
“Daftar saja dahulu. Bisa kok” Kata Pak Malik
memberiku semangat. Aku makin semangat. Aaah, tak sabar untuk menceritakan hal
ini pada ayah, ibu dan Bang Faiz.
*
Ngomong-ngomong, tadi kan aku agak sedikit membahas
drama korea ya?. Yaa, asal kalian tahu, aku sama seperti remaja putri lainnya.
Aku yang umurnya relatif terbilang masih ababil, suka juga dengan drama korea
dan anime jepang. Tapi, tidak sampai over dan bisa melalaikan apa yang sudah
menjadi kewajibanku, kok. Ya,
hanya sekedar minat saja. Sebagai hiburan semata.
“Zyra! Makan!” suruh ibuku. Okay, inilah saat yang tepat
untukku membicarakan perihal beasiswa itu.
*
“Bu, Yah, gimana kalau misalnya Zyra coba-coba ikut tes
beasiswa ke luar negeri terus dapet?” tanyaku ditengah-tengah makan malam. Bang
Faiz sepertinya kaget hingga tersedak. Ayah dan Ibu masih diam.
“Ngaco aja kamu! Emang ada?” Komentar Bang Faiz. Hiiih, itu
orang memang suka sirik. Nyebelin!. Ayah dan ibu mulai buka mulut.
“Ya, kalau itu bagus kenapa tidak?” kata Ayah. Ibu ikutan
menyetujui perkataan ayah. Bang Faiz malah kaget setelah mendengar kata-kata
ayah dan ibu. Aku menjulurkan lidahku.
Tentu saja pada Bang Faiz.
“Aku ingin mendaftar untuk beasiswa di Korea,boleh?”
Pintaku. Tolong. Tolong izinkaaann.
“Baiklah” Jawab Ayah. Akupun tersenyum. Bagaimana tidak
senang, ayah mengizinkan. Ibuku pun begitu. Hanya Bang Faiz saja yang
masih “setengah hati”.
Okaaaayyy!!! Izin sudah didapat. Tinggal mengurus
pendaftaran!!!. SEOUULLL, I’m coming!!!
*
Kau tahu tidak? Itu ceritaku 8 bulan yang lalu. Hehehehe.
Maafkan aku yaa. Dan sekarang, aku di Seoul. Tepatnya di Itaewon. Aku bertemu
banyak orang disini. Dan, tebak. Aku bertemu satu orang. Kau sudah tahu siapa?
Okay, kau bisa menebaknya. Dia, Abigail Adriella.
Flashback 6 bulan yang lalu, saat aku baru menjejakkan
kaki di Negeri Gingseng ini.
“Kemana ya?” Aku mencari seseorang. Yaa, kau tahu siapa dia.
Abigail Adriella. Aku mengiriminya kabar kalau aku berhasil mendapatkan
beasiswa di Jepang. Dan, tempat Adriel-begitulah ia memintaku
memanggilnya-mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar, di Seoul juga. Mungkin
ia akan kaget melihat penampilanku yang berhijab rapat sedangkan ia kurang bisa
bertoleransi dengan manusia berhijab.
Mataku masih menyapu pelataran terminal International
Arrival di Incheon International Airport. Mencari sesosok Adriel
yang-katanya-membawa papan namaku.
Fazyra Rahma. WELCOME!>.<
Ketemu juga akhirnyaaa.
“Hai, Adriel” sapaku sambil melambaikan tangan. Wajahnya
yang tadi aku lihat dihiasi oleh senyum yang manis kini kulihat sebagai
ekspresi ternyata-kau-berjilbab.
“Hai.” Balasnya sedikit dingin, “Kurasa memang benar katamu,
aku terlalu egois dan harus mencoba untuk menjadi toleran” Lanjutnya. Aku
tersenyum. Kami akan seapartemen. Yah, program beasiswa yang aku ikuti tidak
menyediakan fasilitas apartemen atau apalah itu. Akupun harus menunda studyku
di SMA selama 1 tahun. Baiklah, asal aku bisa ke Korea. Hihiii.
Kami bergerak menuju halte bus terdekat untuk sampai kee……
Itaewon!!.
Ya, di Itaewon inilah Adriel tinggal. Dan Itaewon-lah tempat
komunitas muslim terbesar di Seoul berada. Sebenarnya posisi Itaewon tidak
terlalu dekat dengan pusat kota Seoul, tapi aku suka menyebut kalau Itaewon
berada di Seoul. Dan, disini aku lebih mudah menemukan segala yang halal-halal.
*
Kembali lagi ke kehidupanku kini. AKU MASIH HOMESICK!. Ya,
aku masih sangat kangen dengan Indonesia. Dan disini sedang Autumn>.<
ulala~
Aku menjejakkan kaki pertama kali saat musim semi. Dan
sekarang, sudah musim gugur. Baiklah, aku ceritakan bagaimana kehidupanku satu
apartemen bersama Adriel.
*
Awal-awal dia masih kagok dengan penampilanku. Ya, dia masih
kaget kaget begitulah. Dan sekarang, kami sudah dekat. Ya, kami menghargai
perbedaan keyakinan kami. Aku kadang-kadang ‘tergoda’ olehnya. Misalnya saja,
saat musim panas kemarin.
Ada apa? Ya, AKU IRI!. Jujur, aku pernah merasakan hal itu.
Aku ingin berpakaian ‘minim’. Bagaimana tidak tergoda, saat musim panas, kala
teman-teman sekitarku berpakaian serba terbuka, aku harus berpakaian tertutup
bahkan Kyung Hee, kawan baik Adriel-dan juga kini, kawan baikku- pernah
mengomentari, “Zyra, apakah kau tidak salah kostum? Ini musim panas, loh”
katanya. AAARRRGGHHH!! Dan itulah saat aku diuji. Okay, jangan salah sangka aku
ikut-ikutan mereka. Aku berusaha untuk istiqomah dalam menjalani agamaku. Aku
harus setia. Hohoooo.
Well, sekarang ini, seharusnya Adriel sudah pulang.
Tapi ke-
“Aku pulang!”
Okay, dia sudah pulang. Malam ini giliran aku memasak. Kami
memang saling memasak. Dan, dia-karena orang Indonesia- memiliki selera yang
sama. Daaann, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jadi, aku menyiapkan rendang.
Hahahaa, aku sambil nyontek. Jangan bilang-bilang yaaa.
“Kamu bisa membuat rendang?” Tanyanya begitu menyicipi rendang
buatanku. Aku hanya tersenyum.
“Tidak juga.” Jawabku sambil mengangkat bahu dan ia
tersenyum. “Tapi ini sangat enak!! Ajarkan aku cara membuatnya okaaay? Biar di
Indonesia nanti aku bisa pamer pada papa dan mamaku.” Ucapnya.
“Baiklah, nanti aku beri tahu caranya” kataku akhirnya.
Uhuuu senangnya dirikuu. Bagaimana tidak senang, baru pertama kali masak
rendang dibilang enak. Yiihaaa.
Kami banyak bercerita. Terutama tentang 2 tahun terakhir.
Saat Adriel baru menginjakkan kakinya di Seoul ini. Layaknya dua orang sahabat
lama, kami saling bertukar cerita. Dan, tebak, kami juga saling menceritakan
orang yang kami suka. Dan, Adriel ternyata sudah memiliki namjachingu
atau pacar orang korea! Dan katanya itu sudah berlaku sejak sebulan aku ada di
Korea ini.
“Namanya Sung Jae. Lihat?” katanya sambil menyodorkan handphonenya
yang sudah terpampng wajah seorang asia.
Aku terkikik. “ Kukira Sung Jae BTOB. Habis, namanya mirip!”
komentarku. Dia hanya tersenyum nakal.
“Bagaimana denganmu, Ra?” Tembaknya. Jujur, aku memang
sedang menyukai seseorang yang berada di Indonesia. Lebih tepatnya temanku
sendiri. Tapi, aku bukan tipe orang yang suka mengumbar perasaan. Apalagi
tentang…. Dia.
Okee, aku hanya membalas kata-kata Adriel dengan senyum. Yaa
hanya tersenyum. Adriel menatapku aneh.
“Jadi..?”Katanya minta kepastian. Mungkin ia telah
menduga-duga.
“Aku juga menyukai seseorang, Adriel. Aku masih normal.”
Jawabku. Adriel mengernyitkan dahinya yang cukup ‘jenong’.
“kau bilang padanya?” Tanya Adriel. Aku menggeleng.
“Kenapa?! Bilanglah! Kalau kau suka padanya, ya jangan dipendam sendiri! Nanti
sakit, loh. Bagaimana jika ia suka dengan orang lain? Kan siapa tahu dia juga
suka denganmu.” Hihii sungguh, kata-kata Adriel barusan ingin membuatku
tertawa.
“Terserah aku lah, mau bilang atau tidak ya suka-suka aku.
Lagipula, aku tidak merasakan sakit apa-apa. Memendam sendiri itu jauh lebih
indah, Adriel. Percayalah. Sayang seperti itu bukan untuk diumbar atau sekadar
diungkapkan dengan kata-kata. Aku hanya percaya pada hatiku. Ya, lalu kenapa
kalau orang yang aku suka menyukai orang lain? Apa hakku untuk melarang? Aku
bukanlah siapa-siapa. Lagipula, itu hak setiap orang, kan untuk menyukai orang
lain? Kalau dalam Islam, itu sudah fitrahnya manusia. Kalau dia suka denganku,
yaa sudah mau diapakan lagi? Aku masih punya daftar panjang cita-cita untuk
kugapai. Aku bukan terlalu membenci yang namanya pacaran atau semacam itu, juga
bukan yang mendukung. Aku biasa saja. Aku hanya menjaga hatiku ,kok” jawabku
panjang lebar.
“Baiklah, terserah kamu, Ra” Balasnya.
Kami melanjutkan obrolan kami. Banyak yang kami obrolkan. Ngalor
ngidul. Begitulah istilahnya. Ngobrol bersama Adriel dengan menggunakan
Bahasa Indonesia mengurangi kepayahanku yang harus selalu berkomunikasi dengan
Bahasa Korea ataupun Bahasa Inggris. Aku juga banyak mendapat pelajaran dari
gadis Nasrani itu. Kami tetap bersahabat. Imanku masih bisa kujaga.
Ah, ini masih awal-awal. Apakah kau penasaran dengan
ceritaku yang bersahabat dengan Adriel selanjutnya? Baiklah. Tapi, sebenarnya
aku rasa, untuk sekarang ini adalah penghabisan dahulu. Lain kali, aku akan
menceritakannya padamu lagi.
AAAARGGHH!! AKU LUPA! AKU PUNYA PEKERJAAN RUMAH BAHASA KOREA
DARI LEE SONSAENGNIM!!!
Aku akan lanjut cerita lagi nanti yaaah. Daaah~.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar