Rabu, 21 Januari 2015

Agnostik di Indonesia


Agnostik. Kata tersebut mungkinlah terdengar asing di telinga kebanyakan orang. Seringkali agnostik disamakan dengan atheis, sehingga banyak orang yang salah mengartikan agnostik. Kesalahpahaman yang terjadi itulah yang perlu kami perbaiki. Agnostik, bukanlah suatu hal yang harus disalahkan karena dalam hal ini pasti ada alasan mengapa seseorang memilih untuk menjad agnostik. Agnostik bukanlah Atheis dan Atheis bukanlah Agnostik. Atheis yang sudah menjadi “musuh” terlebih lagi keadaan keaagamaan masyarakat- mengingat di Indonesia pernah terjadi Gerakan 30 September  yang didasari oleh ideologi komunis yang meniadakan Tuhan- bukanlah bagian dari agnotitisme yang akan kita bahas. Nah, disinilah permasalahannya.
Pemahaman tentang perbedaan agnostik dan atheis memang sangat dibutuhkan. Terlebih lagi, sebaiknya kita perlu mewaspadai timbulnya “keagnostikan” dalam diri kita. Siapa tahu, sifat agnostik itu sudah tumbuh terlalu baik dalam diri kita sehingga kita tak menyadarinya. Pentingnya menganalisa keagnostikan dalam diri kita adalah untuk lebih mewaspadai orang yang “terjangkit” agnostik itu sendiri. Dan juga bagaimana cara menghadapi para agnostik. Dengan tetap menjaga tali pertemanan dengan mereka tanpa kesalahpahaman kita terhadap agnostik,tali pertemanan yang sudah terjalin tetap utuh dengan saling menghormati tanpa adanya kesalahpahaman menjadi hal yang baik,bukan?.
Tidak seharusnya kita menjudge seorang agnostik sama dengan atheis. Karena mereka memang berbeda. Jika kita menjudge agnostik adalah atheis tanpa mengetahui dengan pasti apa perbedaan agnostik dengan atheis, maka kemungkinan terbesar yang terjadi adalah terjadi perpecahan yang tidak diinginkan. Sekalipun jika kita telah mengetahui apa itu agnostik, apa kita bisa menghadapi mereka?. Bagaimana yang terjadi jika justru kitalah yang agnostik tanpa kita sadari?. Apa yang harus kita lakukan?. Apa yang harus kit lakukan jika ada orang yang secara terang-terangan mengaku bahwa dia adalah seorang agnostik?.
Jangan panik. Memahami dan saling percaya menjadi “jurus” utama dalam menghadapinya. Sebelum kita mencap seseorang sebagai seorang agnostik, mengetahui siapa mereka sangat diperlukan. Maka dari itu, sifat pengertian dan tidak mudah marah memang diperlukan. Kita hanya perlu mengerti keberadaan mereka. Disinilah tantangannya. Kita perlu menganalisa kibat baik dan buruknya agnotitisme bagi negeri ini. Bagaimana jika ternyata banyak orang yang kita temui merupakan agnostik?. Apa yang harus kita lakukan?. Apa yang terjadi pada negeri ini jika banyak orang yang bahkan tak tahu apa itu agnostik sebenarnya?. Bagaimana jika orang yang tak mengerti itu akan “egois”?. Haruskah kita menghindari orang-orang agnostik?. Jawabannya akan segera kita temukan.

1 komentar: